Hot Todays

Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

05/11/11

Wow, Nikmatnya Sensasi Kolak Durian Sepetek

Kelembutan dan rasa legit buah durian ternyata bisa disulap menjadi berbagai sajian, ini dibuktikan Sri Nuryati (48) warga Dukuh Sepetek, Desa Kertosari, Singorojo Kendal. Dengan menambahkan santan, gula aren serta ketan rebus, dirinya membuat kolaborasi menu kolak durian. Sepele memang, namun kreativitas tersebut menjadi sajian khas bagi pengguna jalan ketika melewati jalur alternatif Kendal-Bandungan itu. "Awalnya iseng karena banyak durian yang merekah sehingga tidak terbeli," ungkapnya.

kolak durian

Coba-coba menjadi berkah, setelah memproduksi kolak durian dengan ukuran panci lima kilo kini menjadi sepuluh kilo karena banyaknya pelanggan yang kesengsem kolak buatannya. Menurut dia, kolak buatannya yang tanpa pemanis dan pengawet makanan tersebut bisa kuat hingga dua hari sehingga banyak pelanggan yang memesan dengan partai besar untuk dinikmati di rumah. "Banyak pelanggan yang minta dibungkuskan untuk keluarganya di rumah, bila permintaan banyak kami bisa tutup lebih awal," tuturnya.

Berdasarkan pengalaman, semua jenis durian bisa dibuat kolak. Hanya saja harus memilih durian yang benar-benar masak di atas pohon untuk menghasilkan hasil yang sempurna. Kedai kolak durian Sri Nuryati biasa buka setiap hari, hal ini dikarenakan dirinya saat ini mudah mendapatkan bahan baku durian dari Boja, Singorojo dan Sukorejo yang masih panen durian. "Tiap hari bisa 20-30 durian habis dibuat kolak," ujarnya.

Salah satu pelanggan tetap Sri Nuryati, Ari Sarwanto (47) warga Batu Jabus, Kabupaten Karanganyar mengaku selalu menyempatkan mampir ke kedai yang terletak di tepi jalan itu bila berkunjung ke saudaranya yang berada di Kaliwungu, Kendal. Selain merasakan daging, lanjutnya, pembeli juga bisa memakan langsung biji atau pongge durian mengingat semuanya dimasak hingga matang.

"Rumah kami di Karanganyar masuk area sentra durian, tapi belum ada yang membuat kolak durian. Untuk itu kalo berkunjung ke saudara, kami pasti menyempatkan mampir ke sini," kata Ari, ketika ditemui sedang menikmati kolak durian dengan istrinya, Nunung (39).

Sumber : suaramerdeka

30/10/11

Inilah Kisah Asal Usul Semur di Indonesia

Semur, masakan yang dikenal dengan kuah berwarna cokelat, banyak menyimpan kisah pernikahan antarbudaya. Tercatat ada lima budaya yang ikut meramu makanan dengan sumber bahan protein hewani ini. Sejarawan JJ Rizal menuturkan semur dipengaruhi oleh budaya Eropa, Timur Tengah India, Cina, dan Indonesia. "Nama semur itu dari orang Belanda, dari kata stomerijj," ujar dia dalam diskusi semur di Restoran Bebek Bengil, Kamis 27 Oktober 2011.

asal usul semur

Stomerijj atau steamer (kukusan) adalah salah satu alat masak. Zaman penjajahan mayoritas orang Belanda memiliki pekerja orang Indonesia. "Mereka berteriak memasak dalam stomerijj, tapi terdengar smoor lalu menjadi semur," tutur dia.

Namun cara memasaknya, Rizal menuturkan, murni dari Indonesia. Indonesia sudah mengenal tradisi mengolah daging dan ikan sejak masa berburu dan meramu pada abad 9 Masehi. Bukti tersebut tersurat dalam relief di Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Lalu masuk tradisi dari bangsa pendatang India dan Timur Tengah melalui rempah-rempahnya.

"Terakhir, bentuk masakan dan cita rasa kecap dipengaruhi unsur Tionghoa peranakan," ucap Rizal. Meski begitu, kata Rizal, perlu diingat kecap yang dipakai adalah kecap manis yang asli Indonesia. Soalnya bangsa Cina hanya mengenal kecap asin. Jadi warna yang hitam manis dan rasa hangat rempah menunjukkan masakan ini asli Indonesia.

Setiap daerah, menurut Rizal, juga punya kisah tentang semur. Semur ala Betawi yang dikenal sebagai andilan punya sejarah sendiri. Andilan biasanya dimasak sebelum Lebaran. "Warga yang akan memasak andilan itu patungan," papar Rizal. Tujuannya selain sebagai rasa syukur juga untuk meraih kebersamaan. Kekayaan sejarah semur, Rizal percaya, cukup kuat untuk menjadikannya warisan tak benda dunia. "Semur itu tidak sekadar akte lahir di Indonesia, tapi ada historis dan nilai filosofis yang kuat," ucap dia.

Tapi apa yang layak disebut semur? Menurut Arie Parikesit, pendiri konsultan kuliner Kelana Rasa, semur masuk dalam jenis masakan yang dimasak lama (slow cooking). Memasaknya butuh dengan api kecil dalam waktu lama dengan isi protein hewani. Bisa ikan atau daging.

"Ciri khasnya adalah ada bumbu rempah berupa cengkeh atau pala dan kecap manis," ucap Arie. Tapi Rizal menegaskan tidak semua semur harus pakai kecap manis. Soalnya di Ternate semur daging dimasak pakai cuka.

Sumber : tempointeraktif.com

29/10/11

Wow, Ini Dia Biskuit Maknyus dari Tepung Lele

Bahan baku biskuit tidak selalu dari tepung gandum. Hal ini dibuktikan salah seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor, Clara Meliyanti Kusharto, yang sukses menciptakan biskuit berbahan baku tepung ikan lele.

biskuit clarias

Inovasi baru yang diberi nama Biskuit Clarias itu sudah memenuhi standar mutu yang ditetapkan World Health Organization (WHO). ?Biskuit Clarias berbasis tepung ikan lele cocok untuk makanan bayi di bawah lima tahun. Kami pun sudah mendapat hak paten mengelola lele menjadi tepung,? jelas Clara Meliyanti Kusharto dalam orasi ilmiah di Gedung PSP3 Kampus IPB, Barangsiang, Jum?at, 28 Oktober 2011.

Menurut Clara, kandungan gizi yang tinggi pada biskuit berbahan lele diyakini mampu meningkatkan mutu kesehatan balita, termasuk bayi penderita gizi buruk. Itu sebabnya Biskuit Clarias ditetapkan WHO sebagai makanan tambahan berkualitas.

Biskuit Clarias karya Clara menjadi satu dari 103 inovasi baru paling prospektif di Indonesia. Penggunaan tepung lele, kata Clara, bertujuan untuk memberdayakan masyarakat petani menghadapi Milenium Development Golds ( MDGs) tahun 2015. ?Dengan inovasi ini diharapkan angka kemiskinan dan kelaparan dapat diturunkan,? kata peneliti di Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB itu.

Clara juga memaparkan bahwa produksi pangan lokal dari berbagai daerah sangat berpeluang untuk dimanfaatkan dalam penanganan masalah kekurangan gizi, mulai dari tingkat balita maupun lanjut usia. Namun, saat ini masyarakat lokal belum memanfaatkan sumberdaya yang ada secara profesional. ?Untuk itu mari kita memanfaatkan pangan lokal yang kaya akan gizi dan efektif dikelola,? ucapnya.

Sumber : tempointeraktif.com

Advertisements

Advertisements